Perjalanan Pagi Wiku: Fixie Merah dan Helm Panda
Pukul 06.00 WIB, mentari baru saja memamerkan sinarnya yang keemasan di ufuk timur. Di teras rumahnya, Wiku 2 Demak sudah siap siaga. Seragam OSIS putih biru yang rapi membalut tubuhnya. Lencana bordir di saku kirinya terlihat berkilauan. Namun, yang paling mencuri perhatian adalah helm lucu yang bertengger di kepalanya.
Helm itu bukan helm biasa. Itu adalah helm hitam dengan telinga dan wajah panda yang menggemaskan. Kontras sekali dengan gayanya yang ingin terlihat macho saat mengayuh sepeda fixie merah menyala miliknya. Wiku tertawa kecil, memaklumi. Helm itu hadiah ulang tahun dari adiknya, dan ia berjanji akan memakainya setiap berangkat sekolah demi keselamatan.
"Wiku berangkat, Bu!" serunya sambil mencium tangan ibunya.
"Hati-hati, Nak! Jangan ngebut!" balas sang ibu dari ambang pintu.
Dengan satu hentakan kaki yang mantap, Wiku melompat ke sadel fixienya. Sepeda itu, dengan gear tunggalnya, menuntut Wiku untuk terus mengayuh tanpa henti. SMP 2 Demak jaraknya sekitar 4 kilometer dari rumah, sebuah perjalanan yang sempurna untuk memanaskan otot dan mengisi paru-paru dengan udara pagi yang segar.
Wiku mengayuh keluar dari gang perumahan yang masih sepi. Jantung kota Demak belum sepenuhnya terbangun. Ia melewati persawahan di pinggiran kota yang masih diselimuti kabut tipis. Aroma tanah basah dan padi muda terhirup, membersihkan sisa kantuk.
Di jalan raya utama, kendaraan mulai ramai. Wiku berhati-hati. Pandanya, sang helm lucu, membuatnya selalu sadar untuk menjaga jarak aman. Ia sesekali tersenyum saat pengendara motor di sebelahnya melirik helm itu dan senyum-senyum geli.
Perjalanan berlanjut ke area perkotaan. Wiku melewati Alun-Alun Demak, jantung kota tempat berdirinya Masjid Agung Demak. Pemandangan arsitektur kuno yang megah di tengah riuhnya lalu lintas selalu menjadi pemandangan favoritnya. Ia mempercepat kayuhannya sedikit, menikmati momentum di jalan datar. Musik di earphone-nya (pelan, agar tetap bisa mendengar klakson) membantunya menemukan ritme.
Sekitar pukul 06.30 WIB, Wiku mulai memasuki area yang dipenuhi warung sarapan dan toko-toko kelontong yang baru buka. Bau gorengan dan kopi menyeruak. Ini adalah tanda ia sudah dekat. Ia berbelok di persimpangan terakhir dan melambatkan kayuhan.
Di depan gerbang SMP 2 Demak, sudah banyak siswa yang datang. Kebanyakan naik motor atau diantar. Ketika Wiku tiba, beberapa temannya langsung menyapanya.
"Widih, Panda Merah datang!" goda Bima, teman sekelasnya, sambil tertawa kecil.
Wiku hanya tersenyum bangga sambil menyandarkan fixie merahnya di rak sepeda. Ia melepaskan helm panda yang ia bersihkan sebelum masuk. Pukul 06.40 WIB. Pas. Ia tiba 20 menit sebelum bel masuk berbunyi.
Perjalanan 4 kilometer dengan fixie, ditemani helm lucu, seragam OSIS, dan semangat pagi, telah berhasil. Wiku merasa tubuhnya hangat, otaknya segar, dan siap menghadapi pelajaran hari itu.